Sarjana Entrepreneur, Mungkinkah?

20 September 2019
Comments 0
Category Artikel
20 September 2019, Comments 0

Ketika dinyatakan lulus sebagai sarjana, berbagai macam rasa datang menghampiri seorang yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Rasa gamang menentukan pilihan. Apakah berkarir sesuai dengan jurusan yang telah di tempuh. Memilih untuk menjadi sarjana mandiri dengan memulai usaha. Prosesi wisuda adalah pengukuhan sarjana. wisuda penanda bagi yang menerima gelar akademik. Mulai dari Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi, Sarjana Sastra, Sarjana Komputer, Sarjana Psikologi dan berbagai bentuk gelar lainnya.

Tantangan sarjana dalam dunia lapangan pekerjaan pada tahun terakhir berbeda dengan tantangan 10 tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu masih tersedia terdapat lapangan pekerjaan untuk meniti karier. Hal ini sebabkan kebutuhan pekerja tidak terpenuhi oleh jumlah lulusan pendidikan sarjana. keseimbangan antara ketersediaan lapangan pekerjaan dengan jumlah lulusan perguruan tinggi masih berpihak kepada tersedianya lapangan pekerjaan. Namun sekarang kondisi telah terbalik, dimana tamatan sarjana mencapai ratusan ribu dan ketersediaan lapangan pekerjaan semakin sedikit. Fenomena ini terlihat dari beberapa pameran job fair yang dilaksanakan oleh berbagai Institusi. Pengunjung pencari kerja baik fresh graduate atau yang ingin pindah pekerjaan berjejal penuh.

Begitu juga ketika penerimaan Pegawai negri sipil di sebuah departemen, untuk 1 posisi penerimaan diisi oleh 300 orang. Berbeda dengan dunia wirausaha atau enterpreneur. Dimana 100 peluang usaha hanya diambil oleh 1-10 saja. Berbagai peluang usaha muncul dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kala dulu belum terbuka peluang usaha di internet, sekarang banyak tumbuh usaha kreatif berbasis internet. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Melihat perkembangan, komitmen dari pemerintah lewat Menteri pemuda dan olahraga, serta menteri Koperasi dan UMKM meningkat. Melalui pencanangan  spirit wirausaha muda. Kemudian diikuti oleh beberapa program wirausaha baik berbasis kampus maupun bagi pemuda. Berbagai pihak ikut berperan dalam mensukseskan gerakan ini. Termasuk salah satu perbankan BUMN yakni Bank Mandiri dengan kegiatan Usaha Muda Mandiri.

Ada sebuah selorohan dari beberapa teman ketika menjelang wisuda di Universitas Bung Hatta. Masing-masing mendapatkan sebuah gelar akademik yang disematkan dibelakang nama yaitu S.E atau sarjana ekonomi. Namun bukan itu persoalan yang mengemuka. Ada beberapa defenisi lain dari S.E

  1. Sarjana Eksekutif. Ini adalah sarjana yang memiliki kemampuan khusus dan menamatkan kuliah dengan cum laude. Diterima bekerja di perusahaan setelah wisuda, tanpa pernah mencap pegangguran selama kurang 3 bulan.
  2. Sarjana Ekonomis. Menjadi sarjana melalui sebuah perjuangan panjang untuk mendapatkan gelar sarjana. Dengan nilai yang apa adanya yang terkadang hanya sampai memenuhi syarat administrasi. Mencapai gelar sarjana cukup dengan bermodalkan serba ekonomis. Skill Ekonomis dengan kemampuan yang tidak terasah, pengetahuan juga sangat ekonomis karena miskin membaca dan fakir menulis, kecuali skripsi dan beberapa artikel sebagai tugas-itupun-di copy paste.
  3. Sarjana Eceran. Seperti barang yang masuk dalam kategori mass produck. Sarjana tamatan ini menjadi bagian dari sebuah industri pendidikan yang berorientsi melahirkan sarjana dengan karakteristik produk massal. Menjadi sarjana yang menambah deretan produk tidak banyak diterima oleh pasar dan memiliki siklus hidup yang cepat. Ketika tidak diserap pasar tenaga kerja maka ia menjadi produk tidak laku.
  4. Sarjana Entrepreneur. Memiliki kemampuan untuk mandiri secara finansial. Memberikan nilai lebih dengan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Mereka yang memanfaatkan peluang yang ada di depan mata dan mengoptimalkan kesempatan yang hadir di depan mata.

Paradigma pendidikan

Tidak bisa dipungkiri, rangkaian proses pendidikan mempengaruhi attitude (sikap) knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan) sarjana yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Pembiasaan ini menciptakan dan melahirkan sebuah siklus budaya pegawai.  Mempengaruhi dan membentuk mahasiswa, staff pengajar, pegawai perguruan tinggi menjadi sarjana berparadigma karyawan. Namun tidak siap menjadi entrepreneur yang siap menciptakan lapangan pekerjaan atau siap menjadi sarjana entrepreneur.

Dalam pendidikan perguruan tinggi sering disampaikan bahwa kuliah untuk mencari pekerjaan. Siklus ini mendorong mahasiswa berfikir menjadi pencari kerja setelah wisuda. Aktivitas perkuliahan mahasiswa berorientas sekedar menyelesaikan tugas perkuliahan. Aktivitas perkuliahan mahasiswa tidak berorietasi memaksimalkan peluang dan memberi nilai tambah. . Belajar menjadi sebuah  ketekunan untuk orientasi jangka pendek. Mendapatkan nilai bagus dari mata kuliah, secara otomatis mendapakan IPK yang tinggi. Paradigma ini selaras dengan motivasi mahasiswa untuk menjutkan ke perguruan tinggi sebagai calon karyawan.

Perguruan tinggi memberikan sebuah apresiasi dan rasa kebanggaan ketika lulusan mereka menempati proporsi terbayak menjadi pekerja. Apakah bekerja menjadi pegawai BUMN, bank swasta, pegawai negeri sipil. Namun sedikit memberikan apresiasi dan menjadi kebanggaan perguruan tinggi memiliki sarjana yang menjadi wirausaha atau sarjana entrepreneur.

Peluang Sarjana Entrepreneur

Dengan bergulirnya dorongan pemerintah, perkembangan teknologi informasi. Memberikan peluang besar untuk sarjana menjadi entrepreneur dengan disiplin keilmuan yang diambil di perguruan tinggi. Untuk beberapa  perguruan tinggi berlomba untuk menjadi kampus berhawa entrepreneur. Dan sebagian menyatakan kampus entrepreneur.

Berbagai skema dan program yang bergulir membantu memudahkan seorang sarjana menjadi entrepreneur. Dalam kurikulum perguruan tinggi telah dimasukkan mata kuliah kewirausahaan/entrepreneur. Namun disisi lain dukungan secara nyata berupa, aspek pembinaan, permodalan dan juga penguatan kelembagaan tidak maksimal dan cendrung diabaikan.

Banyak cara sebenarnya untuk menjadi sarjana entrepreneur yang dimulai semenjadi di bangku kuliah. Penerimaan mahasiswa baru adalah peluang pertama. Dimana anak-anak baru membutuhkan banyak kebutuhan, pengetahuan dan hal-hal yang berhubungan dengan perkuliahan. Bisnis yang dapat di ambil adalah pelatihan-pelatihan yang menunjang kesuksesan mahasiswa baru.

Pilihan selanjutnya adalah memulai menjual keahlian atau kebutuhan lain dengan berbagai bisnis yang berkembang. Dalam setiap siklus di perguruan tinggi dan juga aktivitas merupakan peluang untuk menjadi mahasiswa wirausaha. Ketika menjadi mahasiswa beban moral untuk menjadi wirausaha belum berat. Berbeda ketika telah menjadi sarjana yang memiliki beban lebih berat.

Lewat memaksimalkan ruang gerak dalam dunia mahasiswa untuk mengasah mentalias usaha melalui.

  1. Pelatihan wirausaha. Baik yang dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan atau lembaga penyelenggara pelatihan.
  2. Magang dalam koperasi mahasiswa. Salah satu tempat penempaan kemampuan mengelola usaha.
  3. Melakukan usaha memenuhi kebutuhan mahasiswa. Memulai dengan menawarkan produk dan jasa yang dapat membantu kebutuhan dan keinginan mahasiswa.

Sarjana entrpreneur menjadi sebuah keniscayaan ketika segala pihak ikut “mengerami” telur-telur yang siap menetas dari rahim perguruan tinggi. Semoga!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *